New Resolution 2009
January 7, 2009 by Sofie Pangestu
Nggak berasa, kita udah memasuki tahun 2009.
Hmm…biasanya Tahun baru bagi sebagian orang dimulai dengan target resolusi buat tahun yang baru. Mengenai masalah resolusi ini, saya sudah give up membuat catatan. Karena nurut pengalaman, biasanya resolusi tahun baru saya cuman berlaku di awal tahun, pada pertengahan tahun udah mulai dilanggar, dan pada akhir tahun ‘it goes bye2′ Sebenarnya di akhir tahun 2008 saya menyiapkan beberapa target untuk tahun 2009, mulai yg sepele yaitu pengen diet (target yg saban tahun saya buat, tapi saban tahun juga terlupakan) hingga target konyol seperti tidur ngadep keatas (karena nurut Cosmo, tidur ngadep atas bikin muka nggak cepet keriput hahaha).
Namun untuk urusan pekerjaan saya tidak menyiapkan target tertentu, ‘Just let it flow’. Alasanya cukup sepele karena cita2 saya bukan jadi wanita karier, berpakaian blazer keren yg waktunya banyak dihabiskan dengan segudang kegiatan meeting di kantor. Saya juga bukan type pekerja handal yg sanggup sikut2an meraih posisi CEO di sebuah perusahaan. Saya cukup ’satisfied’ dengan pekerjaan saya, yaitu jadi pedagang (bahasa keren-nya enterpreneur:p). Pekerjaan yg kadang dianggap nggak keren soalnya tanpa gelar tinggi juga bisa jadi pedagang. Saya sendiri memiliki gelar Bachelor of Arts dari Singapura yg jelas2 nggak nyambung dengan pekerjaan saya. Tapi apa bole buat karena ini satu2nya kerjaan yg bring me luck. Satu2nya kerjaan yg santai tapi menghasilkan more money and more time for myself.
Ngomong2 soal jodoh tahun ini saya juga tidak menempatkan prioritas. Walaupun tahun 2009 ini, saya merasa santai2 saja, cuman orang sekeliling saya yg lebih bingung mencarikan saya ’someone’ hehehe:)
Dalam 27 tahun saya telah melalui 3 relationships dan lucunya saya masih berkomunikasi dengan semua mantan. Ini bukan karena saya ’still living in the past’ lho, apalagi saya termasuk type konservative yg nggak suka ‘make contact’ dengan dia duluan (takutnya dia udah ada yg lain) tp entah kenapa mereka selalu contact saya. Sejujurnya bagi saya hubungan tersebut berjalan lebih mirip sahabat pena. Mereka bercerita atau menanyakan kabar ‘once in a while’ dan saling memberikan greetings waktu ultah atau Christmas melalui telpon/SMS atau email. Sebuah ‘relationship’ selalu dimulai dengan awal yg manis jadi kalau nggak bisa dilanjutkan ke jenjang berikutnya nggak ada salahnya untuk menjadi teman, bukan?
Dan prinsip hidup saya masih sama
‘Marriage is a lifetime’
Jadi kalo harus menunggu untuk mendapatkan yg terbaik,
Why not?